oh e-ktp ku..terlalu lama aku menunggumu

Awal november 2012 kemarin aku dapat undangan foto buat e-ktp Jakarta. Tertera di undangan diharapkan datang antara jam 11.00-13.oo. Eh, sampai kantor kelurahan, tidak ada satu orang pun. Di loket yang terbuka ada pengumuman, “SEDANG ISTIRAHAT.” Lho? berarti surat undangan ini apa maksudnya? Lama menunggu, antrian pun menumpuk di depan loket. Saling resah dan komplain pun terucap. Soalnya rata-rata dari kami adalah yang mengambil waktu luang kerja. Jadi tentu saja berharap cepat beres lalu balik lagi ke kantor. Setelah menunggu 1 jam an, muncul seorang petugas yang siap menerima urusan kami. Setelah menunjukkan surat undangan itu, aku dipersilakan foto di ruangan sebelah. Ketika mau di ambil foto, petugas menanyakan apa pekerjaanku, “Benar ibu rumah tangga?” “Iya,” jawabku. Setelah selesai, aku diminta ambil ktp seminggu kemudian. Hari yang ditentukan tiba, dan aku meminta suamiku yang mengambilkannya. Tiba-tiba saja suamiku telp dari kantor kelurahan, bilang bahwa penulisan namaku salah. Yang seharusnya nama belakangku ti, malah ditulis n. Trus, pekerjaan tertulis mengurus rumah tangga. What? aku kaget sekali. Kok penulisan nama saja salah, padahal namaku bukanlah nama rumit, nama umum dan biasa banget. Dan itu satu lagi yang buatku shock, masa pekerjaan tertulis mengurus rumah tangga? Bukannya harusnya berisi kata benda, misal ibu rumah tangga, bukan berupa kata kerja + kata keterangan seperti itu. Akhirnya suamiku meminta diganti penulisan nama yang salah dan pekerjaan menjadi wiraswasta. Kata petugas, ok, tapi sepuluh hari lagi jadinya. Walah, walah, ngganti gitu aja kok sampai 10 hari. Apa susah nyari tanda tangan atasannya sampai sebegitu lamanya? Ah, besok hari penantianku itu. Entahlah, besok masih ada kesalahan lagi atau malah belum jadi revisinya. Jadi apa bedanya ngurus e-ktp dengan ktp biasa kalo hitungan waktunya juga sama leletnya. Pikirku di zaman serba canggih gini, apa sih susahnya nge-print lagi kartu baru yang isiannya sudah benar, lalu besoknya minta tanda tangan atasan? Apa tidak tiap hari atasannya datang ke kantor? aneh.

annoracetta on Nopember 27th, 2012 | File Under sosial | No Comments -

Negeri dongeng

Negeri dongeng.

Ingin sekali menghempaskan diriku kesana

Menikmati surga pesonamu

Membuang penat yang menekan raga

Malamku tak lagi malam senyap

Berkecamuk pikiran berlalu lalang

Siangku juga tak seramai jalanan

Bahkan lebih kacau dari tawuran

Ingin kujuntaikan kepalaku dibawah air terjunmu

Menikmati dinginnya kelembutan percikmu

Lalu kuhamparkan tubuhku di atas pasir pantaimu

Agar hangat menyerap ke dalam hatiku

Oh negeri dongeng

Kirimkan segera burung elangmu

Yang bersayap putih itu

Untuk menjemputku

annoracetta on Oktober 1st, 2012 | File Under sastra | No Comments -

SEDAHSYAT ITUKAH BISNIS BARU?

Kalau lagi jalan-jalan ke toko buku atau sedang surfing di internet, lalu mata kita tiba-tiba terpaku pada tulisan yang wah seperti: BISNIS BURGER, MODAL MINIM UNTUNG SELANGIT, lalu di sub judulnya ditambah kalimat ,sudah buka 100 cabang. Wahkebayang ga sih efek tulisan itu. Saya jadi langsung penasaran, ingin langsung baca , ingin langsung praktek, dan tentu saja ingin langsung kaya seperti di tulisan itu. Tetapi benarkah isi tulisan itu sesuai faktanya? Tahun 2005, setahun setelah saya lulus kuliah, saya mendatangi sebuah pameran franchise di pusat kota bandung. Saat itu masih heboh sekali, maklum masih awal-awal fenomena meledaknya bisnis yang difranchisekan. Nah di acara yang diadakan di sebuah gedung itu, berdirilah gerai-gerai bisnis macam-macam yang semuanya menawarkan paket murah dan berbagai diskon lainnya. Karena jiwa saya yang sangat ingin memulai bisnis dengan menggebu-gebu, tertariklah saya oleh ajakan manis sales salah satu nama burger. Setelah tanya-tanya, saya ditawari paket murah seharga 2,5jt sudah dapat gerobak plus peralatan masak lengkap. Juga bahan baku dan cara masak, berikut SOP nya. Namun dengan satu syarat, saat itu harus bayar DP setengah harga. Takut kehabisan (karena kata sales dan ownernya, paket terbatas), saya pun langsung membayarnya. Ketika pulang dari pameran itu, saya bertemu salah satu teman saya yang setelah obrolan panjang, ternyata juga telah membeli franchise burger itu. Sehari setelah pameran itu, saya menelpon untuk konfirmasi mau pembayaran pelunasan. Beberapa hari kemudian, gerobak dan perlengkapannya di antar ke tempat saya di bandung, sedangkan pusat burger itu di Jakarta. Gerobak dan perlengkapannya datangnya hampir tengah malam. Saat itu sekitar jam 10 an malam. Alasannya pengiriman banyak dan lokasinya jauh. Dan esok harinya mulailah saya jualan burger dengan nama yang sama dengan franchisor saya. Hari pertama laku sekitar 10 burger an dengan harga jual rata-rata 5000 an. Jadi income saya sekitar 50.000 an saja. Hari berikutnya laku 15 buah, berikutnya lagi 12, esok berikutnya 10 lagi. Jadi saya rata-rata ya sekitar 10 buah saja lakunya. Padahal tempat saya strategis, depan kampus. Ketika stok bahan baku habis, saya tidak berminat meminta dikirim dari pihak franchisor. Pertimbangannya adalah ada jumlah minimal yang harus dibeli. Padahal daya jual saya tak cukup juga buat bayar karyawan. Setelah merenung, kok saya merasa ditipu ya. Saya lihat lagi buku SOP nya. Disitu tertera penjualan per hari mencapai 50 buah, yang berarti rata-rata income 250.000. Wah, jauh banget dengan income saya yang cuma laku 10 buah. Apa saya yang salah ataukah saya tertipu oleh tulisan di SOP itu ya? Lalu saya tanya ke teman saya yang juga franchise burger di tempat yang sama dengan saya itu. Dan ternyata sama saja. Tak lebih laku 10 buah per hari, padahal lokasinya juga strategis. Dan setelah buka selama sebulan, dengan pertimbangan matang, saya memutuskan menutup gerai burger saya dengan menyisakan kerugian yang lumayan bagi saya. Kejadian sama juga saya lihat di tempat-tempat yang membeli franchise burger itu (termasuk di garut), semuanya tutup, tinggal gerobak dan spanduknya saja. Saya jadi ingat ketika dulu di pameran saya pernah diberi sebuah majalah tentang bisnis, dan disitu ada foto dan profil owner burger itu. Disitu juga tertulis kehebohan bisnis burger beserta paparan jumlah cabangnya yang mencapai ratusan buah dalam kurun waktu 1-2 tahun saja.Bahkan saya masih ingat isi salah satu visi owner burger itu, yaitu membuka cabang per kota di seluruh Indonesia. Ahsaya jadi berpikiran jelek. Saya jadi merasa ketipu membaca majalah itu. Lagian majalah itu tak punya nama sama sekali di tingkat masyarakat pembaca berita. Saya jadi berpikir, jangan-jangan, jangan-jangan itu majalah yang bisa dibeli buat ajang promosi moment- moment pameran seperti saat itu. Saya juga jadi berpikir, untuk franchise golongan bawah(harga franchise dibawah 15jt), tingkat kegagalannya sangat tinggi. Coba bandingkan dengan harga franchise kelas menengah (15-80jt) dan atas (di atas 80jt-misal indomaret, alfamart,dll) yang justru peluang suksesnya tinggi. Ah, kalau sudah gagal kayak gini, saya kok merasa bahwa pihak franchisor kelas bawah itu cuma jualan gerobak aja tanpa mengutamakan kualitas dan keproffesionalan waralaba. Mungkin dulunya ownernya coba jualan burger dan laku, lalu dia tahu ada cara cepat kaya yaitu dengan memfranchisekan jualannya itu. Dan akhirnya terjadilah sekedar jualan gerobak atas nama franchise. Sekarang kalo saya baca di media apapun itu, tentang franchise yang murah meriah dibawah 5 juta, saya akan langsung baca di bagian perkiraan omset. Coba perhatikan, biasanya tertera di situ jumlah penjualan per hari yang tak masuk akal. Baik dari segi harga yang mahal dan juga jumlah dagangan yang laku. Biasanya di mark up dengan nilai tinggi, jadi nanti akan diperoleh omset per bulan yang fantastis, lalu berpengaruh pada BEP yang cuma 2-3 bulan saja.padahal tidak ada yang sama antara hitungan di atas kertas dengan kenyataan yang ada di lapangan. Kalau tidak percaya, coba perhatikan berapa banyak franchise harga murah yang sekarang tinggal gerobaknya saja. Saya sudah mengamatinya sepanjang sebuah jalan di jaktim yang dulu berderetlah franchise tahu, burger, tela, dan lainnya. Masalah mereka sama dengan saya, si ownernya cuma antusias pada berapa jumlah gerobak yang laku dan berapa omset mereka. Kalau sekarang banyak gerai yang nutup, kayaknya ownernya akan mengalihkan marketingnya di luar jawa yang belum tahu fenomena sekedar jualan gerobak ini. Saya sekarang lebih berhati-hati dalam membaca berita info peluang bisnis atau bisnis yang sudah berjalan yang beritanya begito heboh memuat sukses, karena media hanya memberitakan ketika sukses saja, giliran sekarang di lapangan banyak yang tutup gerainya, tidak pernah ada up date beritanya. Jadi balik lagi ke diri kita sendiri. Semuanya punya kepentingan, itulah inti dari pemberitaan. Saya sekarang lebih berfikir untuk menciptakan sesuatu dari diri sendiri yang kreatif, bukan mengekor dengan beli franchise murahan yang akhirnya merugikan diri kita sendiri.

annoracetta on Oktober 1st, 2012 | File Under bisnis | No Comments -